Rabu, 25 Januari 2012

Menyelami Bali dalam Diri

Setiap kali terbang ke Bali, pemandangan yang sulit dihindari di pesawat adalah banyaknya penumpang dengan rambut berwarna coklat. Kerap terjadi, penumpang dengan rambut coklat lebih banyak dibandingkan dengan yang berwarna hitam. Tidak sedikit diantara mereka yang sudah datang ke Bali berkali-kali. Didorong rasa ingin tahu, ada yang bertanya pada salah seorang wisatawan yang datang berulang-ulang. Dan jawabannya agak mengejutkan, setiap kali dia datang ke Bali, seperti selalu menemukan the hidden treasures of Bali. Bagian-bagian   kekayaan   Bali   yang  tersembunyi, itulah yang kerap ditemukan wisatawan ini setiap kali datang dan datang lagi.
Dipancing oleh komentar seperti ini, kalau orang luar yang datang ke Bali, dan setiap kali datang menemukan bagian-bagian lain dari Bali yang tersembunyi, adakah kita orang Bali juga menemukan the hidden treasures of Bali? Ada seorang sahabat yang menemukan pengandaian berguna dalam hal ini. Mendalami kehidupan (baca : menyelami Bali) mirip dengan mengupas bawang merah. Semakin dikupas, semakin putih warnanya. Tambah dikupas tambah  putih lagi.  Setelah dikupas semuanya, tidak ada yang tersisa terkecuali air mata yang meleleh. Pertanyaannya kemudian, banyakkah di antara orang Bali yang “mengupas” Bali, menemukan wajahnya yang semakin putih dari hari ke hari, dan pada akhirnya meneteskan air mata?
Pulau Persembahan
Dalam sebuah perjalanan, ketika sang hidup mulai menunjukkan bimbingan-bimbingan makna, ada sahabat yang bergumam kecil: “Bali dalam bahasa Pali artinya persembahan”.  Ada yang kaget di dalam sini. Terutama karena tidak ditanya, sahabat ini bertutur terus tanpa bisa dihentikan.  Padahal, yang bersangkutan bukan orang Bali, tidak tinggal di Bali.
Bagi kita di Bali, setiap hari kita melihat persembahan. Ada peneliti  Belanda     yang mengunjungi Bali di tahun 1920-an. Menurut peneliti ini, orang Bali ketika itu tidak mengenal istilah kesenian sebagai pertunjukan komersial. Semua gerak kehidupan (dari bertani sampai menari), dilakukan sebagai serangkaian persembahan. Bila boleh jujur, inilah ”silsilah spiritual” orang Bali yang meletakkan semuanya sebagai persembahan.
Wilayah-wilayah persembahan
Pemahaman dan pendalaman seseorang tentang sebuah wilayah, memang amat ditentukan oleh seberapa tekun yang bersangkutan datang memahami wilayah tersebut. Sebut saja seorang sahabat yang bertahun-tahun pekerjaannya hanya melihat peta kota London. Tentu saja kedalaman pemahamannya berbeda dengan seseorang yang belum pernah melihat peta London, namun puluhan tahun sudah tinggal menetap di sana. Hal yang sama juga terjadi dalam wilayah-wilayah persembahan.
Mempelajari peta (baca: mempelajari sastra) tentu saja baik dan berguna. Namun, hanya dengan memandanginya, manusia hanya memahami serangkaian wilayah secara amat terbatas. Berangkat, berjalan, lihat dan pahami, itulah  langkah-langkah  yang  dilakukan  oleh  setiap manusia yang mau memahami serangkaian wilayah.
Hal yang sama juga terjadi dengan wilayah-wilayah persembahan. Belajar tentang asal usul serta pilosopi persembahan tentu baik, tetapi hanya yang melakoninya penuh kedalaman sekaligus keheningan yang bisa tergetar di wilayah-wilayah  persembahan.
Sebagaimana wilayah lain dalam kehidupan, wilayah-wilayah persembahan juga ditandai oleh sejumlah keluhan. Tidak sedikit sahabat yang mengeluh mahal. Bahkan ada segelintir orang yang berpikir pindah agama karena mahalnya ongkos menjadi orang Bali.  Bagi pencinta keheningan dan kejernihan, pengertian sebagai peta memang bukan syarat mutlak dari dimulainya perjalanan. Kerap terjadi, penekun keheningan dan kejernihan aman serta nyaman berjalan bahkan tatkala tidak tahu. Melakukan persembahan, itu dan hanya itu. Sering tidak bernama, tidak bersuara, tidak ada tangan manusia yang mencatat. Namun, toh itu dilakukan terus menerus.
Ada memang yang memberi sebutan bodoh akan hal ini. Ketika ditanya, kenapa persembahannya seperti ini dan seperti itu, sebagian pencinta keheningan malah bertanya balik: apa semuanya harus dimengerti? Sebagian di antara yang sedikit itu bernama Eugen Herrigel. Dalam Zen in the art of archery, ia menulis: let’s stop talking and go on practicing. Mari berhenti berdebat, lakukan persembahan terus menerus. Mengutip pendapat guru  Takuan,  Herrigel  juga  menulis:  perfection  in the art of swordsmanship is reached when the heart is troubled by no more thought of I and You – no more thought even of life and death. All is emptiness. Kesempurnaan, menurut Takuan, dicapai ketika batin tidak lagi diganggu oleh pikiran tentang saya dan Anda. Bahkan hidup mati pun sudah tidak dipikirkan lagi. Semuanya hanya hening, sepi, sunyi.
Eugen Herrigel belajar Zen di Jepang. Takuan juga seorang guru pedang dari Jepang. Dan kita di Bali tentu saja punya guru-guru yang tidak kalah mengagumkannya. Bedanya, sedikit dari karya-karya guru kita terdahulu yang ditulis serta disebarkan ke seluruh dunia. Sastranya, sebagian bisa ditelusuri melalui nama-nama yang diberikan pada tempat-tempat suci yang berumur tua dan lama. Di sebuah kawasan di Kintamani Bangli, di mana alam memberi tanda-tanda dalam bentuk  11 gunung dan 11 patirtan (sumber air suci), tetua di sana memberi nama salah satu Pura dengan nama Pura Puseh Meneng. Seperti sedang berbisik: diam, tenang, hening, sepi. Dalam diam (meneng) seseorang sedang berjalan di wilayah-wilayah persembahan.
Di desa Tajun Bali Utara, di bagian teratas batas desa yang berisi sumber air yang tidak pernah habis, tetua memberi nama Pura dengan Pura Mengening. Ini lebih jelas lagi, tidak ada yang lain kecuali: hening! Sebagian mantra upacara orang Bali mulai dengan kalimat bhur bvah svah (alam bawah, tengah dan atas) sebagai sebuah tatanan kosmik yang menyatu rapi dalam diam dan hening.
Ini    memberi    inspirasi,     persembahan    memiliki beberapa wajah. 0rang kebanyakan melakukan sembah raga. Kerja bakti, ngayah di Pura, mejejahitan adalah sebagian contoh sembah raga. Dalam tingkatan persembahan ini, manusia kebanyakan menggunakan badannya untuk menyembah. Berikutnya sembah rasa. Di tingkatan ini, badan bukan satu-satunya alat melakukan persembahan. Menyayangi semua mahluk, tidak menyakiti. Intinya banyak memberi. Bukan karena mau dipuji. Tetapi karena melalui rasa semuanya terhubung dalam sebuah jejaring yang rapi. Bila menyayangi akan disayangi. Jika menyakiti akan disakiti. Dan di jalan rasa ini, banyak yang meneteskan air mata. Bukan karena sedih, melainkan karena jiwa mulai rindu pulang. Tingkatan ketiga adalah sembah rahasia. Ini banyak dilakukan oleh orang-orang Tantra. Makanya dalam Tantra ada guru hidup, guru buku suci, guru simbolik dan guru rahasia di dalam diri. Itu sebabnya salah satu arti Tantra adalah rahasia. Dalam bahasa tetua Bali: meneng, hening, sunyi, sepi, suwung, kolok.
Bila ada sahabat yang berjalan perlahan dalam diam dan hening di wilayah-wilayah persembahan, sekaligus menyatu rapi dalam tatanan kosmik bhur bvah svah, apa yang disebut wisatawan di awal tulisan ini dengan the hidden treasures of Bali (kekayaan spiritual yang tersembunyi), tidak lagi menjadi monopoli wisatawan. Ia juga menjadi kekayaan orang-orang yang lahir, tumbuh, besar, tua dan mati di Bali. Dan ketika  menemukan Bali di dalam  diri,  air  mata  tanpa  terasa menetes, karena sangat tersentuh oleh demikian indah dan agungnya alam Bali. Tanpa gerakan bibir ada yang berbisik di dalam sini: matur suksma! Yang dalam bahasa sederhana diterjemahkan menjadi menghaturkan jiwa. Bahkan jiwa ini pun ia persembahkan. Memodifikasi pendapat Mahatma Gandhi yang menyebut my life is my true message, orang jenis terakhir akan berbisik my life is my true offering. Hidup sayalah persembahan saya yang sesungguhnya.
Mungkin itu sebabnya, Kahlil Gibran dalam The Prophet menulis: “Your life is your true Temple”. Hidupmulah tempat ibadahmu yang sesungguhnya.
Siapa saja yang sudah sampai di sini, tersedia banyak sekali hal di Bali yang bisa “dibaca”. Di kepala pulau Bali, di mana manusia bisa melihat matahari terbit sekaligus matahari tenggelam, tetua memberi nama desa dengan Kubutambahan. Kubu itu rumah, tambah itu positif. Rumah untuk mereka yang berfikir positif. Di kaki pulau Bali, di mana manusia bisa melihat matahari terbit sekaligus puncak Gunung Agung, nama desa versi tetua adalah Sanur. Sa dalam bahasa Bali artinya satu. Nur itu cahaya. Cahaya yang satu. Ubud yang berarti ubad (obat untuk penyembuhan) terletak di Bali Tengah. Seperti sedang bercerita, bila mau tersembuhkan (tercerahkan) jangan lupa mengambil jalan tengah. Semua bentuk ekstrimitas dihindari.
Dengan teropong ini, tidak saja secara fisik Bali itu indah. Secara spiritual juga indah sekali. Kaki melangkah diterangi cahaya yang satu, kepala diisi dengan hal-hal positif. Sebagai hasilnya, hidup pun tersembuhkan (tercerahkan). Cirinya, selalu melangkah di jalan tengah. Dan puncak jalan tengah bernama Shunya, Embang, meneng, hening, sepi, sunyi. Bukan sembarang sunyi. Bukan sunyi yang tidak peduli. Melainkan sunyi yang diisi dengan menyayangi. Sebab sunyi baru sempurna bila diisi menyayangi. Menyayangi baru sempurna bila dilakukan dengan batin yang sunyi (baca: tanpa keakuan).
18 Februari 2010
Merenda Agama Tirtha
C. Hooykas pernah menyebut praktek beragama di Bali dengan sebutan agama Tirtha. Secara lebih khusus, karena hampir semua kegiatan upacara melibatkan dan berujung pada penyucian menggunakan air suci (tirtha). Setelah didalami salah satu karya C. Hooykas (Agama Tirtha, Five studies in Hindu-Balinese religion, NV Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij Amsterdam 1964), ternyata tidak banyak mengulas asal muasal sekaligus basis pilosofis dari apa yang ia sebut agama Tirtha. Namun lebih pada mencatat, menafsirkan serta memberi pengertian tentang sebagian praktek beragama di Bali ketika itu. Dari penjelasan tentang Saraswati, Yama Raja, Padmasana, Siwa-Lingga sampai dengan Siva-Ratri.
Empat tiang penyangga
Berdiri di atas serangkaian hasil wawancara mendalam, studi kepustakaan yang mengagumkan, serta pengamatan tangan pertama di lapangan, praktisi sinematografi Mark Knobil melalui National Geographic pernah bertutur tentang Bali dengan judul yang menawan: Bali, Masterpiece of Gods. Ada dua hal yang menonjol dalam kesimpulan Knobil tentang Bali. Pertama, kehidupan keseharian orang Bali adalah hasil percampuran antara agama dan seni. Dan percampuran ini ditujukan untuk sebuah nama Bali yang dalam bahasa Pali berarti persembahan. Kedua yang bisa menjadi bahan merenda agama Tirtha ke depan, praktek keagamaan di Bali berdiri di atas empat tiang penyangga : kecintaan akan alam, rasa hormat pada leluhur, Hindu dan Buddha.
Kesimpulan pertama mengingatkan kita pada ”silsilah spiritual” orang Bali, di mana semua hal dalam kehidupan merupakan perpaduan antara agama dan seni. Hasil perpaduan ini kemudian dipersembahkan. Sebagai hasilnya, lihatlah tertata rapinya alam spiritual sekaligus alam material  Bali beratus-ratus tahun. Mirip dengan kehidupan orang Indian di Amerika (sebagaimana disimpulkan antropolog Carlos Castaneda dalam The Power of Silence), dalam kehidupan orang Bali hampir setiap tempat adalah tempat suci. Lebih-lebih bagi tetua Bali yang dulunya hampir semuanya bertani. Pekerjaan petani ketika itu tidak ubahnya dengan pemuja Ibu pertiwi. Ketika ia membersihkan tanah dari kotoran maupun rerumputan, mencangkul, membajak sawah, memupuk, semuanya hanyalah rangkaian pemujaan pada alam dan Ibu pertiwi. Bisa dimaklumi kalau konsep Tri Hita Kharana memperoleh banyak pendukung di Bali. Lebih-lebih jika ditambah dengan hari raya tertentu yang mengucapkan terimakasih pada alam semesta (tumpek kandang misalnya). Sehingga dalam totalitas, soal kecintaan akan alam, sejarah Bali menyimpan catatan panjang sekaligus mengagumkan.
Rasa hormat pada leluhur, ini juga sulit dibantah pada kehidupan orang Bali dalam kurun waktu yang lama dan panjang. Hadirnya Pura Merajan yang jumlahnya tidak terhitung, habisnya tidak sedikit waktu orang Bali untuk memperjelas soroh. Upacara Ngaben dan upacara-upacara lain sebagai penghormatan terakhir pada leluhur. Belum lagi ditambah dengan diperlakukannya orang-orang tua di Bali secara lebih terhormat dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia (perhatikan jumlah panti jompo di Bali dan bandingkan dengan jumlah panti yang sama di Barat misalnya). Sehingga leluhur, dalam perspektif ini, menjadi sebuah tiang penyangga keharmonian masyarakat Bali dalam waktu yang lama dan panjang.
Berkaitan dengan Hindu, Bali juga demikian kayanya akan bukti. Dari tempat ibadah yang banyak menyebut Dewa Hindu seperti Ciwa, Wisnu dan Brahma. Sebutlah pura termegah yang bernama Besakih, demikian juga Pura-Pura desa, semuanya mewakili ketiga nama Dewa dalam tradisi Hindu. Ciwa memang sebuah sebutan yang paling banyak disebut (lengkap dengan nama-nama lainnya), namun setelah peninggalan Guru Besar Mpu Kuturan di abad ke sebelas, Bali seperti demikian ajegnya di bawah naungan tiga nama besar : Ciwa, Wisnu dan Brahma. Di hampir semua pura desa, ketiganya memiliki tempat masing-masing yang amat dihormati: Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Bale Agung.
Unsur Buddha kendati oleh sebagian kecil orang Bali mau diingkari, juga masih tersisa sampai sekarang.  Bila berbicara pemetaan Pura di Bali, tidak mungkin untuk tidak menyebut Pura Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.  Dan di kedua tempat suci ini, sampai sekarang masih tersisa tempat persembahyangan untuk umat Buddha. Di Pura Besakih bernama Pura Ratu Gede Ngurah Subandar, di Pura Ulun Danu Batur diberi nama Pura Konco.  Bukti  lain, tujuan olah spiritual ala tetua Bali disebut Moksha. Ini mirip sekali dengan Pratimoksha (arahat) yang menjadi tujuan pencapaian para sahabat di Hinayana. Almarhum Bapak IGB Sugriwa pernah menterjemahkan salah satu kitab suci yang pernah ada di Bali yakni  Sang Hyang Kamahayanikan. Setelah dipelajari buku ini, ternyata acuannya adalah sad paramita (enam kesempurnaan) yang menjadi kerangka  melangkah  para   sahabat  di  Mahayana.
Penentuan lokasi Pura ala tetua Bali dengan konsep Nyegara-Gunung, Lingga-Yoni (lihat tulisan ’Purnama di tanah Tantra’), mirip sekali dengan jalan-jalan Tantrayana. Di Pura Pegulingan (Tampaksiring) masih tersisa sampai sekarang sebuah stupa besar yang sama besarnya dengan stupa di puncak Borobudur. Dan tetua menanam ye-te mantra di sana. Sebuah mantra yang sangat menggetarkan bagi mereka yang mendalami ilmu pembebasan.
Merenda agama Tirtha
Sebagaimana bangunan yang sebenarnnya yang memiliki empat tiang penyangga, kekokohannya tentu ditentukan bukan oleh salah satunya namun oleh keempat-empatnya. Preferensi berlebihan pada salah satu tiang, apa lagi disertai oleh upaya sengaja melupakan tiang-tiang yang lain, sangat mungkin menghadirkan guncangan-guncangan.
Bali dulu yang ratusan tahun bertumpu pada empat tiang ini (kecintaan akan alam, hormat pada leluhur, Hindu dan Buddha) memang oleh beberapa tokoh disebut dengan sebutan tradisional. Namun ia membawa kedamaian, ketenteraman, keajegan yang mengundang decak kagum masyarakat dunia. Demikian kagumnya, sampai-sampai disebut Pulau Dewata, Pulau Surga, surga terakhir.
Bali sekarang memang diberi sebutan modern. Pendapatan per kapita  meningkat, pariwisata lebih maju  dari  dulu,  bangunan-bangunan  modern  juga menjulang di sana-sini, rata-rata pendidikan masyarakat juga meningkat. Dan di zaman ini juga terjadi bom meledak. Sehingga para pemimpin Bali menganggap perlu mengibarkan bendera Ajeg Bali tinggi-tinggi.
Tidak semua yang terjadi dulu itu positif, tidak semua yang terjadi sekarang ini negatif. Namun, manusia yang melupakan sejarah serupa dengan rumput liar yang mudah sekali dicabut dan diterbangkan angin. Dan sekarang menjadi pilihan kita semua orang-orang Bali, untuk merenung. Akankah kita menjadi rumput liar, atau menjadi sekokoh pohon beringin yang hadir di banyak sekali tempat sakral di Bali?
Bila mau jadi pohon beringin, tiang-tiang penyangga mana diantara empat tiang ini yang kurang kita perhatikan? Ada sahabat yang menyebut alam yang sakral ini telah dinodai. Ada yang menyebut kalau segi Buddha dari masyarakat Bali sudah hilang. Ada juga yang menyebut Hindunya keliru. Ada juga yang menganggap kita lupa leluhur. Entahlah,  perdebatan kadang perlu kadang juga tidak perlu. Logika dan bahasa kerap membantu, kerap membelenggu. Yang jelas, melalui praktek keseharian kita masing-masing, kita sedang merenda agama Tirtha.  Akankah hasil rendaan kita akan membuat Bali semakin kokoh, atau malah semakin berguncang, tergantung bagaimana kita memandang agama. Bila agama diletakkan sebagai kendaraan untuk memuaskan ego (praktek saya benar, praktek orang salah), maka sampai kapan pun agama akan menjadi sumber perpecahan.
Tirtha dalam keseharian
Bila kita sepakat bahwa agama warisan tetua Bali adalah agama Tirtha yang meletakkan air suci sebagai unsur utama, mungkin layak merenungkan dalam-dalam sifat air.
Pertama, air itu lentur sehingga bisa melewati semua halangan. Ini memberi inspirasi, bila Bali mau melewati banyak penghalang, kembalilah ke kelenturan. Perhatikan lagu anak-anak di desa tua Bali yang berbunyi ”Dabdabang dewa dabdabang, mumpung dewa kari alit”. Nak, dalam hidup jangan lupa tenang, sabar, lentur. Lebih awal engkau mempelajarinya lebih baik, begitulah kira-kira pesan tetua dalam hal ini.
Kedua, air senantiasa mengalir ke tempat yang rendah. Ia memberi pelajaran tentang kerendahatian. Bukan kebetulan bila anak-anak di desa tua Bali ketika pertama kali belajar bernyanyi diajarkan lagu eda ngaden awak bisa yang mengajarkan kerendahatian.
Ketiga, secara kimiawi air dibentuk oleh unsur-unsur api. Hidrogen itu api, oksigen adalah yang memungkinkan api terjadi. Namun kendati unsurnya api, begitu diolah rapi ia menjadi lembut, sejuk dan halus. Ini memberi pelajaran, kehidupan Bali boleh penuh api (bom teroris, gantung diri dll), namun belajarlah mengolahnya agar jadi lembut, sejuk dan halus. Dan puncak kelembutan dan kehalusan ketemu ketika mengerti dalam-dalam hakekat nyepi dan shanti.
Carlos Castaneda seperti bisa mewakili kearifan tua orang-orang Bali. Dalam The Power of Silence ia menulis : Silent knowledge is something that all of us have. Something that has complete mastery. But it cannot think, it cannot speak of what it knows. Ini mirip sekali dengan orang-orang Bali dulu yang amat pendiam, murah senyuman, kaya persahabatan. Semuanya diungkapkan dengan satu bahasa : diam. Bukan sembarang diam, namun diam yang kaya rasa sekaligus kaya makna. Demikian kayanya hingga tidak ada bahasa manusia yang bisa mewakilinya. Dalam bahasa agama Tirtha, ini disebut manasa Tirtha. Air suci yang dipercikkan di kedalaman batin. Lidah mana pun akan kurang panjang untuk bisa menjelaskan manasa Tirtha.
                                                                                                                             gedeprama.detikblog.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar